Ir. Soekarno
24 Maret 1965. Bung Karno berdiri di Gelora Senayan, berbicara langsung kepada kader-kadernya. Bukan pidato seremonial — ini gemblengan. Ia mengurai Marhaenisme bukan sebagai teori di atas kertas, tapi sebagai cara berjuang: melawan kapitalisme, melawan imperialisme, dan membangun Indonesia yang berpihak kepada kaum yang selama ini diperas. Marhaen bukan cuma petani, bukan cuma buruh — tapi seluruh rakyat Indonesia yang miskin bukan karena malas, melainkan karena sistem yang memiskinkan mereka. Membaca teks ini hari ini, kamu tidak sedang membaca sejarah — kamu sedang diajak untuk memilih sikap.