Ir. Soekarno
Di sini, Soekarno bukan lagi pemuda yang menulis di koran — ia sudah jadi presiden, berdiri di podium setiap 17 Agustus, berbicara langsung kepada rakyatnya. Buku ini memuat 20 pidato kenegaraan Bung Karno dari tahun 1945 hingga 1964 — dua dekade perjalanan republik yang belum selesai berjuang. Setiap pidato adalah potret zamannya: dari mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung, sampai seruan-seruan keras tentang revolusi yang ia anggap belum tuntas. Dan kalimat-kalimatnya tetap menghantam — "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah", "Semangat proklamasi adalah semangat rela berjuang mati-matian dengan penuh idealisme, dengan mengesampingkan segala kepentingan diri sendiri." Dibaca berdampingan dengan jilid pertama, kamu akan melihat bagaimana satu orang bisa konsisten — dari tulisan pertamanya sampai pidato terakhirnya.