Ir. Soekarno
Tahun 1930. Soekarno bukan di podium, bukan di depan massa — ia duduk di kursi terdakwa, dituduh hendak menggulingkan pemerintah kolonial Belanda. Tapi alih-alih membela diri, ia justru balik menggugat. Di hadapan pengadilan Landraad Bandung, ia membacakan pledoi yang ia tulis sendiri dari balik sel penjara Banceuy — di atas kertas beralas kaleng tempat buang air. Hasilnya bukan sekadar pembelaan hukum. Ia mengurai secara sistematis bagaimana imperialisme bekerja, bagaimana rakyat Indonesia dihisap selama berabad-abad, dan mengapa perjuangan kemerdekaan bukan kejahatan — melainkan keniscayaan sejarah. Teks ini kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa dan beredar di seluruh dunia. Membacanya hari ini, kamu akan mengerti dari mana Bung Karno mendapat nyalinya.